Jumat, 30 Oktober 2015

MUHAMMAD SEBAGAI PELAKU BISNIS

BAB I
A. PENDAHULUAN 
         Allah SWT tidak membenci kecenderunngan manusia dalam mencintai harta benda miliknya. Selama mereka tidak berlebihan dalam mencintai harta benda melebihi kecintaan kepada Allah SWT. Berbisnis adalah salah satu cara untuk menjemput rejeki dari Allah SWT. Manusia dalam berdangan tentu saja memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan yang banyak, namun hal itu tentu saja harus diiringi oleh etika dalam berbisnis. Dan sejatinya masyarakat Arab kuno sampai masa Rasul dan hingga kini berdagang masih menjadi matapencaharian bagi bangsa Arab pada umumnya. Dimana Rasulullah telah memberikan tatacara berbisnis atau berdagang dengan cara etika dan santun dan mengedepankan kejujuran dalam melakukan bisnisnya. 
Bahkan pada zaman Nabi baik beliau sebelum menjadi Nabi ataupun sesudah menjadi Nabi bangsa Arab khususnya suku Quraisy melaksanakan bisnis dagang karena diuntungkan bahwa suku Quraisy dipercaya sebagai penjaga ka'bah. dengan diberikannya tanggung jawab suku Quraisy sebagai penjaga ka'bah suku Quraisy pun mendapatkan keuntungan, karena kota Mekkah sendiri adalah pusat perdagangan. Bahkan Nabi sendiri memulai karir nya dengan berbisnis bahkan Nabi Muhammad Saw melakukan bisnis sejak belaiu masih usia belia, dan memulai dari nol hingga akhirnya mendapatkan kepercayaan untuk mengelola usaha dari para investor yang sangat tertarik dengan transaksi yang dipraktekan dengan cara syariah yaitu dengan konsep Mudharabah (bagi hasil) bahkan Nabi bisa disebut sebagai Entrepreneur sejati.

B. RUMUSAN MASALAH
     1. Perdagnangan Pada Zaman Arab Kuno
     2. Kaum Quraisy Sebagai Penjaga Ka'bah
     3. Hikmah Bagi Kaum Quraisy Sebagai Penjaga Ka'bah
     4. Masa Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad



BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
B. Perdagangan Pada Zaman Arab Kuno
       Bangsa Arab memiliki letak geografis di tengah negara-negara paling besar dan paling awal memiliki kebudayaan. Ke arah timur laut ada negara Persia, ke arah barat laut ada negara Romawi dan Mesir, ke arah barat daya di balik lautan ada negara Ethiopia, dan di sebelah selatan ada Samudera Hindia yang memisahkannya dengan negara India.
Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sebagian besar perdagangan dunia, sejak zaman kuno sampai abad pertengahan adalah perdagangan di antara negara-negara ini. Dua negara besar yang yang selalu bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan di dunia, yaitu Persia dan Romawi, memiliki hubungan-hubungan dagang dengan bangsa Arab di utara dan selatan. Meskipun dengan taraf yang lebih rendah, bangsa Arab juga memiliki hubungan dagang dengan India, Yaman, ‘Amman dan Bahrain.
Ada dua jalur transportasi perdagangan di jazirah Arabia; jalur pertama adalah jalur timur yang menghubungkan Yaman dengan Irak: membawa komoditas Yaman, India dan Persia lewat darat, melintasi bagian barat Irak kemudian gurun pasir dan akhirnya sampai di pasar-pasar Syam. Di jalur itu, para pedagang melintasi pasar-pasar Yaman, Irak, Palmyra, dan Syiria. Di setiap wilayah mereka menjual komoditas yang tidak ada di sana, dan juga membeli komoditas wilayah itu untuk dibawa ke wilayah-wilayah lain. Jalur kedua, dan merupakan yang paling penting, adalah jalur barat yang menghubungkan Yaman dengan Syam melintasi wilayah-wilayah Syam dan Hijaz, membawa komoditas Yaman, Ethiopia dan India ke Syam, dan sebaliknya membawa komoditas Syam ke Yaman lewat jalur laut.
Di kalangan bangsa-bangsa kuno, orang-orang Arab dikenal sebagai broker (pedagang perantara), yang selalu menjaga jalur perdagangannya sesuai dengan kebiasaan mereka dan penguasaan mereka terhadap gurun. Letak geografis negara mereka adalah lingkaran penghubung di antara kerajaan-kerajaan dunia masa lalu.
Bangsa Quraisy dalam jalur perdagangan itu adalah juaranya. Merekalah yang memimpin bangsa Arab di semua sisi. Nama Quraisy sendiri seolah terdengar seperti bentuk tashghir ta’zhim (pengubahan bentuk kata dengan maksud membesarkan) dari kata al-Qarsy yang adalah seekor binatang besar di laut, ditakuti oleh binatang-binatang laut lainnya.
Letak geografis negara Arab yang sangat srategis ini seringkali mengundang pihak lain untuk menguasainya. Alexander The Great misalnya pernah menyerang Arab, namun tidak lama kemudian ia meninggalkannya. Raja-raja Persia, Babilonia, dan Mesir di masa lalu juga sangat ingin menguasai negara Arab. Anehnya ia tetap terjaga seperti adanya sampai akhirnya Inggris berhasil menancapkan kekuasaannya di bagain timur dan barat jazirah Arabia. Mereka berhasil menguasai Eden, sebuah pelabuhan alamiah Yaman, di mana kapal-kapal dari Ethiopia dan India berlabuh. Inggris juga menguasai ‘Aqabah, sebuah tempat perhentian kafilah-kafilah Arabia di masa lalu, dan merupakan pelabuhan Romawi pertama yang dikuasai oleh bangsa Arab. Dengan begitu, Inggris berhasil menguasai wilayah-wilayah yang sangat berpengaruh terhadap kedua jalur perdagangan ini, yang menjamin jalur perdagangan India.
Sangat masuk akal jika bangsa Arab masa lalu, baik laki-laki maupun perempuannya, melakukan aktifitas perdagangan, khususnya bagi mereka yang negara-negaranya terletak dekat salah satu dari dua jalur perdagangan ini. Jika pun mereka tidak melakukan aktifitas perdagangan, maka mereka akan memanfaatkan perdagangan dengan cara bekerja sebagai pemandu jalan atau pengemudi dari kafilah-kafilah dagang itu. Oleh karena itu tidak salah jika salah seorang orientalis menyatakan bahwa bangsa Arab adalah bangsa pedagang dan broker, bukan bangsa yang suka berperang.
Negara-negara Arab masa lalu seperti Tadamur (Palmyra), Saba, dan Ma’in, sibuk dalam perdagangan di wilayah timur, sampai-sampai Taurat merekam kekayaan dan perdagangan mereka. Penduduk Tadamur membawa barang dagangan bangsa Arab, Irak dan India ke Mesir dan selatan Eropa. Permata dan mutiara yang dibawa oleh penduduk Tadamur dari negara timur adalah benda-benda yang sangat disukai dan dibanggakan oleh para raja dan kaisar Eropa.
Tadamur terletak di tengah-tengah antara negara Persia dan Romawi, antara Irak, Syam dan jazirah Arab. Hal ini menjadikan Tadamur sebagai tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang dari semua negara ini sejak masa lalu. Akibatnya dapat ditebak, perdagangan mereka menjadi ramai, kekayaan mereka semakin berlimpah, dan pasar-pasar mereka menjadi begitu terkenal sampai menjadi kiblat bagi para pedagang India, Persia, jazirah Arab, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Eropa.
Negara Romawi, yang merupakan negara paling kuat saat itu, sangat ditakuti oleh kabilah-kabilah Tadamur. Merekapun lalu mengambil hati negara itu dengan cara sering memberikan upeti dan mengirimkan utusan. Tadamur mengetahui bagaimana negara Romawi dan Persia seringkali bersaing untuk menguasai perdagangan Tadamur.
Ketika negara Ma’in di Yaman tumbuh pesat, penduduknya kemudian melakukan aktifitas perdagangan. Dalam hal ini mereka sangat terbantu oleh luasnya pengaruh mereka hingga mencapai wilayah-wilayah pantai di laut tengah dan pelabuhan-pelabuhan teluk Persia.
Sementara negara Saba’ begitu terkenal kekayaan dan perdagangannya, sehingga dalam Taurat disebutkan bahwa raja Saba’ menyerahkan kepada Nabi Sulaiman sebanyak 12.000 kg emas dan batu-batu mulia yang sangat banyak. Cukuplah ini menjadi bukti bagaimana kekayaan yang mereka miliki. Pada masa lalu, bangsa Saba’ adalah negara Arab yang paling kaya dan paling luas perdagangannya. Mereka membawa barang-barang dagang dari Ethiopia dan India ke Mesir, Syam, dan Irak. Dengan begitu mereka lalu membentangkan pengaruh perdagangan mereka sekaligus memonopoli perdagangan di wilayah-wilayah tersebut.
Nicholson, mengutip Muller, dalam bukunya Tarikh al-Arab al-Adabi menyatakan bahwa sejak masa yang sangat lama, kapal-kapal telah berlayar membelah lautan di antara pelabuhan-pelabuhan negara-negara Arab timur dan India. Kapal-kapal itu membawa berbagai produk khususnya rempah, kemenyan, hewan-hewan langka (seperti kera dan burung merak) ke pantai ‘Amman. Pada abad X SM mereka sudah familiar dengan Teluk Persia yang dari sana mereka menuju ke Mesir dan para raja Firaun beserta para pangerannya membeli barang-barang mereka. Sulitnya pelayaran di Laut Merah menyebabkan mereka lebih menyukai jalur darat untuk perdagangan antara Yaman dan Suria. Kafilah-kafilah dagang itu berangkat dari Chabot di Hadramaut menuju ke Ma’rib ibu kota Saba’, lalu ke utara menuju Makrabah (yang nantinya menjadi Mekah), dan tetap di jalurnya dari Batra menuju Gaza menyusuri Laut Mediterania, melalui laut sepanjang pantai-pantai Hadramaut. Akibat dari perubahan ini—yang tampaknya terjadi pada abad pertama masehi—adalah melemahnya kekuatan mereka sedikit demi sedikit.
Yang menggantikan mereka adalah bangsa Himyar yang menjadikan Arab Hijaz ada dalam kekuasaan mereka, yang kemudian mereka manfaatkan untuk membawa barang-barang dagangan  mereka.
Dengan demikian maka orang-orang Yaman di masa lalu melakukan transportasi perdagangan antara negara-negara Arab dan negara-negara yang ada di sekitarnya. Hal ini terus terjaga sampai datangnya abad VI M. Mereka bersama kerajaan-kerajaan lainnya memonopoli perdagangan di kawasan jazirah Arabia. Mereka membawa kurma, kismis, kulit, kemenyan, batu-batu mulia, kain-kain tenun yang mereka dapatkan dari negara asal dengan cara menukarnya dengan barang-barang lain. Mereka juga membawa barang-barang dagangan yang mereka buat sendiri seperti parfum dan minyak wangi dan kemudian mereka jual di pasar-pasar dunia di masa lalu seperti Asia, Afrika dan Eropa. Untuk jangka waktu yang lama mereka menjadi pengawas perdagangan dunia.

B. Kaum Quraisy sebagai Penjaga Ka’bah
Kehidupan perniagaan bangsa Arab merupakan fakta yang telah dikenal dalam sejarah. Mata pencaharian penduduk di kawasan itu pada khususnya-dengan kondisi wilayah yang kering, padang pasir, penuh dengan beba-tuan dan pegunungan tandus- adalah berdagang. Kondisi sebagian besar tanah di wilayah Hijaz, khususnya di sekitar Makkah memang seperti 
itu; kering, berpasir, berbatu-batu dan langka air. Tidak ada hasil pertanian yang dapat dipetik di wilayah itu. Al-Quran menggambarkan situasi itu dalam doa Nabi Ibrahim :
"Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di 
lembah yang tandus di dekat Rumah Suci-Mu (Ka'bah)" (QS.14:37)

Oleh karena itu, pengikut agama ini secara khusus memilih dan menempa diri mereka dalam bidang perdagangan. Kaum Quraisy, berdasarkan kepe-mimpinan mereka sebagai penjaga Ka'bah, memiliki peluang besar dan kemudahan dalam bidang perdagangan.

Secara umum, kehidupan politik bangsa Arab sangat tidak pasti. Kehi-dupan kesukuan yang mandiri merupakan cara hidup yang normal. Tidak adanya kekuatan sentral yang mendorong setiap suku untuk bertanggung jawab menjaga keselamatannya sendiri. Oleh karenanya, tidak ada jami-nan akan perdamaian dan keamanan di wilayah itu. Meskipun demikian, kaum Quraisy-dengan otoritas sebagai penjaga Ka'bah-sangat leluasa dan aman untuk melakukan perjalanan dagang (kafilah-kafilah) di selu-ruh kawasan ini. Hampir seluruh suku, dalam rute perdagangan menuju Syri, Yaman dan Bahrain, menghormati dan menghargai kafilah-kafilah kaum Quraisy. Lagipula, kapanpun mereka membutuhkan, mereka dapat dengan mudah memperoleh izin singgah dari suku-suku tetangga yang berkuasa di sepanjang rute perdagangan ini. Mereka tidak hanya mempe-roleh fasilitas semacam itu dari suku-suku Arab lain, lebih dari itu mereka juga memperoleh sejumlah fasilitas dagang dan jaminan keamanan.Keterangan rinci tentang perdagangan dan keamanan serta surat-surat 
ijin singgah ini dapat dijumpai dalam buku-buku hasil karya para penulis Arab. Seorang sejarawan terkenal berkebangsaan Abbasia menye-butkan tetang persetujuan perniagaan dengan para penguasa kerajaan tetangga dalam ungkapan seperti ini :
" Tidak diragukan lagi, kaum Quraisy merupakan suku Arab yang paling berpengaruh dan terhormat, suku dari mana Nabi Saw sendiri berasal. Mereka menjadi penjaga Ka'bah; tempat suci bangsa Arab. 

C. Hikmah bagi Kaum Quraisy sebagai Penjaga Ka’bah
Di sampaing itu, penguasaan mereka atas kota Makkah, paling tidak memberikan tiga keuntungan sekaligus, yaitu : 

Pertama, pengaruh kuat atas suku-suku lainnya. 
Kedua, posisi sentral yang memberikan kemudahan dalam perdagangan dan membangun relasi. Hal ini selain memberikan keuntungan sendiri, juga kehormatan pada mereka.
Ketiga, wilayah Makkah-berdasarkan adat bangsa Arab- yang bebas dari peperangan dan permmusuhan pribadi menyebabkan posisi mereka terjamin,tidak ada rasa takut dan terhindar dari bahaya. Kehormatan dan keuntungan ini, diperoleh kaum Quraisy berdasarkan kedudukan mereka sebagai pemelihara Ka'bah. Mereka menerima itu dari Allah yang benar dan Esa dan mendengarkan risalah-Nya tentang Keesaan dan Kesucian, yang dibawa oleh Nabi-Nya." Peringatan terhadap kaum Quraisy akan anugerahAllah ini terdapat dalam al-Quran :

"Karena kebiasaan orang-orang Quraisy mengadakan hubungan pada musim dingin dan musim panas dengan aman. Maka seyogyanyalah mereka menyembah Allah yang memiliki rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (akan bahaya)."(106: 1-4).

Ketika berkecamuk peperangan antar suku yang menimbulkan rasa saling permusuhan dan perasaan tidak aman, sepenuhnya mereka tetap menikmati keamanan dengan kehormatan dan wibawa, baik dalam maupun luar negeri.
Kedudukan mereka sebagai pelayan dan pemelihara rumah Allah itulah yang memberikan kemudahan-kemudahan ini. Mereka dihormati sebagai pemimpin bangsa Arab ke wilayah mana pun mereka pergi berdagang. 
Seluruh kehormatan, kemuliaan, kepemimpinan, bahkan keuntungan dari hasil dagang dan kekayaan mereka, merupakan akibat langsung dari kedudukan mereka sebagai pemelihara Ka'bah. Status ini juga memungkinkan mereka memperoleh keuntungan dalam bidang perdagangan dan politikdari negara-negara tetangga. 

Keempat, orang putera Abd Manaf, Hasyam, Abd Syam, Muttalib dan Naufal, berhasil mengantongi ijin perjalanan dan keamanan dagang yang disebut Aylaf (persetujuan) dari para penguasa negara-negara tetangga. Hasyam pergi ke Syiria dan memperoleh persetujuan dari penguasanya, Naufal memperolehnya dari penguasa Irak, Muttalib dari penguasa Yaman dan Abd Syam memperolehnya dari raja Ethiopia (Al-Muhabber,hal.162).

Kaum Quraisy mengambil keuntungan penuh dari status mereka sebagai pemelihara Ka'bah. Mereka mengirim kafilah dagang ke seluruh negara tetangga. Inilah yang membuat mereka kaya dan sangat berkuasa. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam surat 104 di atas, mereka mengirim kafilah dagangnya ke daerah Utara (Syiria, Iran, dan Irak) pada 
musim panas dan ke daerah Selatan (Yaman dan Ethiopia) pada musim dingin tanpa rasa takut akan bahaya. Mereka mempunyai pengetahuan dagang yang sangat baik dan mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Usaha perdagangan dilakukan dalam berbagai bentuk. Aneka jenis orga-nisasi usaha pun telah mereka dirikan. Shirkat (kerjasama) dalam 
berbagai tipe dijalankan, di mana para pemilik modal dapat secara langsung terlibat dalam perdagangan atau hanya menjadi sleepingpartner, dan dengan cara demikian mereka ikut menikmati keuntungan dan menderita kerugian (mudlarabah). Bahkan, kaum wanita yan tidak berdaya, para janda dan anak-anak yatim dapat berdagang melalui satu atau lain jenis kerjasama ini. Khadijah adalah seorang janda kaya yang melakukan perdagangan melalui cara ini dengan orang-orang yang berbeda. 
Nabi memulai karir dagangnya dengan dana Khadijah atas dasar kerja sama semacam ini. Hadrat Abbas, paman nabi, mempunyai suatu usaha yang sangat besar dengan cara seperti ini. Biasanya ia meminjamkan uangnya pada orang-orang yang berdagang berdasarkan waktu tertentu. Usaha perdagangan kaum Quraisy saat itu berhasil baik dan mereka 
mengirimkan kafilah-kafilah dagang mereka ke berbagai pelosok dunia sepanjang tahun.

D. Masa Kelahiran dan Masa Kecil Muhammad
  •  Masa Kelahiran
Imam Jakfar Shadiq as mengenai peristiwa yang terjadi saat kelahiran Nabi Muhammad Saw berkata, "Setan biasa pulang pergi ke tujuh langit yang ada. Ketika Nabi Isa as lahir ke dunia, setan dilarang melewati tiga langit. Dengan demikian ia hanya bisa pergi hingga ke langit keempat. Ketika Nabi Muhammad Saw lahir ke dunia, setan dilarang naik ke langit, sekalipun yang pertama. Bila setan hendak naik ke langit, maka panah meteor dari langit dilemparkan ke arahnya..."

Ketika orang-orang Quraisy menyaksikan peristiwa yang ada di langit mereka berkata, "Seakan-akan kiamat yang diberitakan oleh Yahudi dan Kristen telah terjadi."

Amr bin Umayah, seorang ahli astronomi hebat di masanya berkata, "Pandanglah langit! Pandangi bintang-bintang yang menjadi petunjuk kita. Bintang-bintang yang menunjukkan kapan musim dingin dan panas tiba. Lihatlah! Bila kalian melihat bintang-bintang itu pindah dari tempatnya, maka ketahuilah bahwa masa kehancuran seluruh makhluk telah tiba. Bila kalian menyaksikan bintang-bintang ini tetap pada tempatnya dan bintang-bintang lain dilempar ke sekitarnya, maka ketahuilah telah terjadi satu peristiwa baru."

Paginya semua menyaksikan betapa seluruh arca dan sesembahan mereka telah tumbang. Pintu gerbang istana Kisra retak dan 14 pilar penyangga setiap pintu gerbang runtuh. Air danau Saveh mengering dan api yang berada di kuil api Persia juga padam, padahal api itu telah menyala selama 1000 tahun. Pemimpin Rahib Zoroaster bermimpi melihat onta-onta yang kuar menyeret kuda-kuda Arab melewati sungai Dajlah hingga mencapai Iran. Kubah pintu gerbang istana Kisra terbelah dan sungai Dajlah yang sebelumnya kering telah diisi lagi oleh air. 

Pada malam itu muncul cahaya dari Hijaz yang menerangi langit, kemudian meluas hingga mencapai langit bagian timur.  Singgasana semua raja dan penguasa zalim hancur dan mereka tibat-tiba menjadi bisu. Mereka tidak dapat berbicara hingga malam tiba. Ilmu para tukang sihir musnah dan sihir mereka tidak berguna.


"... dan Quraisy perlahan-lahan naik dan memiliki tempat di tengah-tengah kabilah Arab. Kepada mereka disebut Alu Allah. Karena mereka tinggal di Mekah dan Baitulllah al-Haram sudah ada di sana..."


Aminah, ibu Nabi Muhammad Saw mengenai saat-saat kelahiran anaknya mengatakan, "Demi Allah! Ketika anakku lahir ke dunia ia meletakkan tangannya di bumi dan menengadahkan kepalanya ke langit. Kemudian ada cahaya yang muncul dari dirinya. Cahaya itu menerangi semua yang ada. Pada waktu itu aku mendengar ada seseorang di antara cahaya itu yang berkata, "Engkau telah melahirkan manusia terbaik... Namakan ia Muhammad.


Abdullah menikah dengan Aminah,beberapa saat setelah perkawinan, Abdullah pun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Aminah melahirkan beberapa bulan kemudian. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal.Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.Yang kemudian diberi nama MUHAMMAD,“Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji,1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib.

  • Masa Kecil Nabi SAW
Rosul tidak menyusu pada ibunya,melainkan disusukan kepada orang lain,yaitu kepada Halimatussa’diyah selama dua tahun.Pada nabi berusia tiga tahunan,ada yang melihat bahwa ada dua orang datang pada Nabi dan membelah perutnya serta mengambil sesuatu dari dalamnya.

Ketika Nabi berusia 6 tahun, Aminah membawanya ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar serta berziarah kemakam ayahnya.Tetapi ditengah perjalanan tepatnya di Abwa’ Aminah mengalami sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Nabi kemudian di bawah asuhan kakeknya, Abd’l-Muttalib. Tetapi orang tua itu juga meninggal tak lama kemudian, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.Kemudian pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu Talib. Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau Abd’l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu Talib. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abd’l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya.


Ketika usia Nabi baru duabelas tahun, ia turut dalam rombongan kafilah dagang bersama Abu Talib ke negeri Syam. Diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.Muhammad yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia.

Perang Fijar
Perang fijar ini terjadi ketika Nabi berusia antara limabelas tahun sampai duapuluh tahun.
Beberapa tahun sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu dengan berkata: “Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam perang itu; sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan.” Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu .Pemikiran dan perenungan itulah yang membuat beliau jauh dari segala perkara nafsu duniawi.

Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian kematian kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat. sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.


BAB III
PENUTUP

Sebagai Penutup, semoga kita umat islam mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang dicontohkan Rasulullah Saw  dalam kejujuran berbisnis dan menjadi tauladan bagi kita semua.

3 komentar:

  1. apa yang di maksud perang fijar? dan benarkah cara berdagang rosul suka menyebutkan pokok modalnya tidakmematok untung dridagangnya,,?

    BalasHapus
  2. apa yang di maksud perang fijar? dan benarkah cara berdagang rosul suka menyebutkan pokok modalnya tidakmematok untung dridagangnya,,?

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus